Kabupaten Sumba Barat Daya

Kantor Bupati SBD

Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) terletak di ujung barat daya Pulau Sumba dan merupakan kabupaten yang baru terbentuk pada tahun 2007 dengan nama ibu kota Tambolaka. Secara geografis berada di antara 9018’01” Lintang Selatan dan 180055’ – 120023 Bujur Timur, dengan luas wilayah 1.445,32 km2. Iklim di daerah ini sangat dipengaruhi oleh angin muson sehingga memiliki iklim yang kering dan hanya mengenal dua musim, yaitu: Musim kemarau antara bulan Juni – September, musim hujan antara bulan Desember – Maret.

Keadaan seperti ini berganti setiap tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April - Mei dan Oktober - Nopember. Curah hujan rata-rata antara 60mm – 120 mm tiap hari atau 1200mm – 2450mm per tahun, dengan suhu rata-rata berkisar antara 210C - 240C. Temperatur udara rata-rata sekitar 270C dan temperatur udara tertinggi 33,7 0C yang terjadi pada bulan November, sedangkan terendah 21,50C terjadi pada bulan Agustus.

Masyarakat dan Budaya
Masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya pada umumnya adalah penduduk asli dari tiga suku, yaitu: Suku Wewewa, suku Loura dan suku Kodi, sedangkan sebagian kecil masyarakatnya adalah para pendatang yang tinggal menetap dan berbaur dengan penduduk asli. Kehidupan sosial budaya masyarakat sangat dipengaruhi oleh adat istiadat dan aliran kepercayaan yang disebut “Marapu”. Penduduk asli kabupaten Sumba Barat Daya setengah bagiannya masih memeluk agama tradisional “Marapu” sedangkan yang lain pemeluk agama Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha.

“Marapu” adalah suatu kepecayaan yang pada hakekatnya manusia akan mengalami kematian sebagai akhir kehidupan dunia nyata dan beralih kepada dunia yang tidak nyata atau Marapu atau dunia arwah. Dalam kehidupan tidak nyata inilah manusia masih terus berhubungan dengan manusia yang hidup melalui ritual adat.

Kepercayaan Marapu yang sarat dengan nuansa Magis Religius tercermin dalam cara berkomunikasi dengan Sang Maha Dewa lewat media hati babi atau ayam yang dikurbankan. Tradisi “Marapu” menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat, seperti dalam upacara kelahiran, perkawinan, kematian, penarikan batu kubur, pembangunan rumah adat, syukuran, permohonan untuk panen yang berlimpah dan lain – lain.

Kuatnya pengaruh adat istiadat dari para leluhur juga terlihat jelas dalam kehidupan keseharian masyarakat di kampung – kampung adat yang tersebar diseluruh kecamatan di Sumba Barat Daya, mulai dari cara berpakain, menenun kain, berbicara menggunakan bahasa daerah, cara memasak makanan, cara hidup berkelompok berdasarkan hubungan kekeluargaan/kekerabatan, serta cara bertani dan berternak sebagai mata pencaharian utama masyarakat.

Semua aktivitas tersebut masih dilakukan dengan cara – cara tradisional, sehingga para wisatawan yang baru pertama kali datang berkunjung akan merasakan nuansa kehidupan tradisional yang jauh dari sentuhan modernisasi.

Suasana perkampungan dan rumah – rumah adat masyarakat sangat unik dan masih terjaga keasliannya. Model rumah adat berbentuk rumah panggung dengan atap yang menjulang tinggi ke atas dan ditutupi dengan alang – alang. Rumah adat memiliki tiga fungsi, bagian dasar sebagai kandang hewan, lantai dua merupakan tempat keluarga, tempat tidur dan perapian terletak persis di bagian tengah, sedangkan bagian menara merupakan gudang atau tempat menyimpan persediaan pangan.

Rumah –rumah adat dibangun dalam area perkampungan yang dikelilingi oleh pagar batu, yang disusun rapi tanpa menggunakan perekat. Di dalam perkampungan juga terdapat kuburan – kuburan batu berukuran besar peninggalan nenek moyang, serta batu besar seperti tiang atau tugu yang ditegakkan di tanah, sebagai tanda peringatan dan lambang arwah nenek moyang dalam kepercayaan “Marapu”.

Salah satu budaya masyarakat yang unik yang sering dilakukan dikampung – kampung adat adalah upacara adat penarikan batu kubur. Prosesi penarikan batu kubur ini dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tenaga manusia sampai ratusan orang dan berlansung hingga berhari – hari lamanya tergantung jarak dan besarnya batu kubur.

Pesona atraksi budaya yang juga cukup terkenal di kalangan wisatawan adalah atraksi budaya “Pasola” yang merupakan permainan perang berkuda yang melibatkan dua kelompok besar pasukan berkuda dan saling menyerang dengan senjata lembing kayu.

Apabila ada pihak yang terluka maka darahnya dipercaya sebagai tanda kesuburan dan panen yang berlimpah. Upacara Pasola dilaksanakan untuk menyambut pesta panen dan sebagai acara silaturahmi dengan sanak saudara dan keluarga besar di kampung asal mereka masing - masing. Pasola digelar sekali dalam setahun pada bulan Februari dan Maret.

Transportasi
Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan salah satu pintu masuk ke pulau Sumba dan memiliki fasilitas sarana pelabuhan udara dan laut yang memadai.

Pelabuhan Udara Tambolaka melayani penerbangan 8 jam setiap hari senin – hari minggu. Terdapat 4 maskapai penerbangan yang melayani rute dari dan ke Tambolaka, yaitu: MERPATI, WINGS AIR, TRANS NUSA dan BATAVIA.

Rute penerbangan: Tambolaka – Denpasar – Surabaya; Tambolaka – Denpasar – Jakarta; Tambolaka – Denpasar – Jogjakarta (bermalam di Denpasar). Sedangkan Rute dalam provinsi: Tambolaka – Ende; Tambolaka – Kupang.

Pelabuhan laut Waikelo melayani pelayaran kapal Fery KM. Cakalang dengan rute (Waikelo – Sape – Labuan Bajo) dua kali seminggu.

Cetak