Ritual Adat Perkawinan Manggarai Timur

ritual-adat-perkawinan_1

Perkawinan bagi masyarakat Manggarai bukan hanya membangun hubungan antara dua individu, melainkan persekutuan antara dua kelompok masyarakat yang lebih luas yaitu kerabat atau klan dari kedua pengantin. Perkawinan merupakan suatu upaya untuk melanjutkan kehidupan dan menghasilkan keturunan. Oleh karena itu, dalam kosmologi masyarakat ManggaraI menggunakan berbagai symbol yang  melambangkan kesuburan seperti kebiasaan makan daun sirih dan pinang.

Menurut masyarakat Manggarai daun sirih melambangkan kelamin wanita, sedangkan buah pinang adalah symbol kelamin pria. Makan sirih pinang dan dicampur kapur menghasilkan air ludah yang berwarna merah yang mana melambangkan reproduksi dan kesuburan. (Mariebeth Erb; The Manggaraians: A Guide to Traditional Livestyles; hal.44).

Masyarakat Manggarai menganut system patrilineal, dengan demikian kelahiran anak laki-laki disebut “ata one” (orang dalam) yang berarti bahwa sejak kelahiran, perkawinan hingga kematiannya, dia tetap menempati rumah/kampong tempat dia dilahirkan dan mewarisi harta benda milik orang tuanya .

Kelahiranan anak perempuan  dianggap sebagai “ata pe'ang” (orang luar) yaitu kebalikan dari “ata one”, dimana setelah menikah, seorang gadis akan menyatu dengan suaminya dan mewarisi harta benda milik suaminya. Sebagai kompensasi dari kehilangannya, kelurga pengantin laki - laki harus memberikan mas kawin atau Belis (Paca) kepada keluarga pengantin  perempuan. “Paca” yang diberikan secara tradisional berupa kerbau, kuda, babi, sarung tenunan, dan sejumlah uang. Apabila “paca” telah diberikan, maka pengantin perempuan bisa diarak menuju rumah pengantin laki-laki dalam acara “roko” (perarakan), dimana pengantin perempuan diarak dengan menunggang kuda.

Sesampai di gerbang kampong “pa'ang” dari pengantin pria, pengantin wanita akan dijemput oleh keluarga dari pengantin lakilaki. Selanjutnya ibu-ibu dari pihak laki-laki memberikan sirih pinang kepada pengantin wanita dan pengantarnya. Pengantin wanita juga diterima dengan seekor ayam dan sebotol tuak, yang diawali dengan ucapanucapan penyambutan. Hal ini menandakan bahwa pengantin perempuan pada saat itu disambut dan diperlakukan seperti tamu terhormat. Dari sana dia diarak menuju rumah pengantin laki-laki.

Di depan rumah pengantin laki-laki telah ditempatkan satu butir telur yang dililit dengan rerumputan, sebelum memasuki rumah suaminya dia menginjak telur tersebut hingga pecah. Ritual ini dinamai “wedi ruha” (injak telur) yang melambangkan kelahirannya kembali sebagai individu baru.Pada saat itu dia menanggalkan “ceki” (roh leluhur atau pelindung) sebelumnya dan menggunakan ceki dari keluraga suaminya.

Setelah acara tersebut dia diperkenankan untuk masuk ke rumah suaminya. Selanjutnya pada saat pemberian “paca” atau beberapa tahun setelah menikah kedua pengantin melaksanakan suatu ritual yang disebut “nempung” di  beberapa tempat ritual ini disebut “woe weki”. Nempung atau woe weki melambangkan penguatan atau pengukuhan perkawinan secara adat Manggarai.

Pada saat ini kedua pengantin didoakan agar memiliki keturunan, memperoleh hasil panen yang memuaskan, memperoleh rezeki dalam berumah tangga, serta dijauhkan dari segala macam bencana, kemalangan, sakit, dan segala bentuk kesialan dalam hidup.

Cetak