Tenun Ikat Sumba Barat

Kampung Adat Tarung_1

SENI dan kerajinan Sumba Barat yang paling populer adalah kain tenun. Masing-masing wilayah memiliki ragam motif dan corak tersendiri. Di wilayah Wanokaka, Lamboya dan Tana Righu ada kain panggiling, pahikung dan pawora sementara di Loli terkenal dengan kain lambaleko. Jenis-jenis kain tersebut terkait dengan teknik pembuatan motif dan pewarnaannya. Pahikung adalah jenis kain yang dibuat dengan teknik ikat. Pawora dibentuk dengan teknik anyaman yang kemudian diberi pewarna alami (wora), sementara lambaleko dibuat menggunakan lidi atau bilah bambu yang disisipkan pada sela-sela benang lalu diungkit dan ditekan mengikuti pola-pola tertentu.

Tidak seperti di Sumba Timur, motif kain tenun di wilayah Sumba Barat umumnya kecil-kecil dan sedikit abstrak. Pada kain laki-laki motif seringkali berupa garis, titik-titik, dan mamoli di tepinya. Sementara motif yang terdapat pada kain wanita aslinya berupa belah ketupat (mata kerbau) dan segi tiga (ekor kuda). Menurut Janet Hoskins motif-motif tersebut diadopsi dari benda-benda yang diberi pihak laki-laki sewaktu meminang seorang gadis (belis). Sementara benda-benda yang diberikan pihak perempuan seperti babi atau gading dianggap tabu. Mamoli yang merefliksakan seksualitas wanita digambar pada kain laki-laki, sementara mata kerbau dan ekor kuda yang merupakan simbol-simbol maskulin di gambar pada kain perempuan. Pada acara-acara adat kedua kain ini selalu hadir berpasangan sebagai gambaran transaksi yang seimbang.

Dewasa ini motif kain tenun tidak lagi mengikuti pakem tradisional. Misalnya mamoli, kini banyak muncul pada kain perempuan, ada pula motif kepiting yang merupakan simbol kebangsawanan. Bahkan motif paling baru berupa burung di kolam air mancur yang banyak muncul belakangan ini tidak memiliki makna apa pun, sekedar hiasan dekoratif yang dicontoh sang penenun dari buku-buku bergambar. Namun halhal yang dianggap tabu tetap tak berbah, hingga hari ini tidak pernah ada yang mengaplikasikan belis balasan pihak wanita sebagai motif kain tenun.

Selain memenuhi fungsi praktis sebagai bahan pakaian, kain tenun tradisional Sumba Barat juga memiliki makna sosio-religius. Kain tenun dapat mendongkrak prestise sosial seseorang. Makin banyak jumlah kain yang dimiliki, makin beragam corak dan warnanya, makin tinggi pula kedudukan pemiliknya di mata masyarakat. Kain tenun terbaik selalu dipakai untuk menutupi jenazah sebagai simbol penghargaan kepada almarhum. Begitu juga dengan para pelayat, selalu membawa kain tenun sebagai tanda belasungkawa. Kain tenun adalah simbol budaya yang penting dan digunakan dalam berbagai kesempatan seperti perkawinan, menyambut tamu, permintaan maaf dan lain sebagainya.

Cetak