Rantuk Allu

rantuk-allu_1

Merupakan salah satu permainan tradisional masyarakat manggarai. Permainan ini biasanya dimainkan pada malam hari saat bulan purnama atau setelah selesai panen padi ladang. Permainan ini biasa dimainkan oleh pemuda dan pemudi dalam satu kampong yang mendambahkan keceriaan atau kegembiraan di usia remaja. Melalui permainan ini, mereka berkesempatan untuk saling berkenalan dan menjalin kasih. Oleh karena itu, pesan yang disampaikan melalui lagu yang mengiringi permainan ini seperti lagu 'Mbe Lalose' dengan lyric seperti 'eee…ae ruange awo puar, uang situt wela timung' adalah syair cinta dari seorang pemuda untuk meraih simpatik dari sang gadis pujaan.

Selengkapnya: Rantuk Allu

Tari Likurai

Tari Likurai

TARI LIKURAI berasal dari Kabupaten Belu. Tarian Likurai dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang ditarikan ketika menyambut atau menyongsong para pahlawan yang pulang dari medan perang. Konon ketika para pahlawan yang pulang dari medan perang dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan). Maka para feto (wanita) cantik atau gadis-gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan menjemput para Meo (pahlawan) dengan membawakan tarian Likurai dan didampingi beberapa mane (laki-laki) sambil menari (haksoke) membawa pedang.

Selengkapnya: Tari Likurai

Tari Sere Dokele

Pada awalnya terjadi perang tanding antara 2 (dua) orang pria, keduanya menggunakan senjata berupa tombak, parang dan perisai. Kemudian datanglah bala bantuan dari masing – masing pihak bahkan kaum wanitapun turut ambil bagian didalamnya. Maka terjadilah perang antara dua kelompok besar. Dalam perang tersebut tidak ada pihak yang kalah maupun menang, ibarat pepatah yang mengatakan, “kalah jadi abu, menang jadi arang”. Oleh karena itu, mereka kemudian bersepakat untuk berdamai atau berekonsiliasi sebagai saudara dan saudari demi hari depan yang lebih cerah. Hal itu sungguh ditampakkan dengan penuh sukacita dalam satu tarian kemenangan bersama yang dikenal dengan “tarian sere dokale”.

Selengkapnya: Tari Sere Dokele

Tari Tebe

Tari Tebe

TARI TEBE berasal dari Kabupaten Belu. Tarian Tebe merupakan suatu luapan kegembiraan atas keberhasilan / kemenangan dimana para pria dan wanita bergandengan tangan sambil bernyanyi bersahut-sahutan melantunkan syair dan pantun yang berisikan puji-pujian, kritikan atau permohonan, sambil menghentakan kaki sesuai irama lagunya. Biasanya dilakukan pada malam hari. Pada zaman dahulu dilaksanakan para Meo pulang dari medan perang membawa kepala musuh, kemudian dipancangkan ditengah lalu mereka mengelilinginya semalam suntuk dan biasanya selama 3 atau 4 hari lamanya. Sekarang tarian ini dipentaskan pada acara Gereja atau acara kegembiraan lainnya. Juga acara pendinginan rumah adat (rumah pemali) atau saat injak padi dan lain-lain.

Tarian Ako Woja

tarian-ako-woja_1

Tarian ini dikreasi oleh sanggar seni Wongka Dedang yang berasal dari Kecamatan Lamba Leda. Tarian Ako Woja (mengetam padi) menggambarkan aktivitas warga Manggarai Timur yang mengetam padi secara bergotong royong oleh perempuan dan laki-laki. Pada saat mengetam padi mereka bersama-sama turun ke sawah membawa semua peralatan yang dibutuhkan seperti Roka (keranjang dari anyaman bambu), Doku (nyiru). Perempuan biasanya mengetam padi, sementara laki-laki mengangkutnya dari sawah dan melakukan pengirikan. Selanjutnya perempuan lain menampi untuk memisahkan bulir padi dari gabahnya.

Tarian Bidu Kikit

Tari Bidu

TARIAN BIDU KIKIT berasal dari Kabupaten Belu. Kikit dalam bahasa tetun berarti burung elang. Tarian ini merupakan tarian khas dari salah satu suku di Kabupaten Belu yakni suku Kemak yang bermukim di Kabupaten Belu bagian Utara. Tarian Bidu Kikit terdiri dari beberapa laki-laki dan perempuan yang menggunakan musik pengiring tihar dan gong, dan pukulannya diatur sendiri. Para penarinya menari melambangkan burung elang jantan dan betina yang terbang sambil meliuk-liuk mengintai mangsanya dan kemudian menukik memburu mangsanya.

Tarian Caci

tari-caci_1

Tarian Caci merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian Caci terlihat begitu heroik dan indah karena merupakan kombinasi antara Lomes (keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai), Bokak (keindahan seni vokal saat bernyanyi) , dan Lime (ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan). Pemain Caci juga dibekali kemampuan olah vokal untuk bernyani , dimana setelah menangkis cambukan lawan seorang pemain Caci secara spontan bernyanyi dan menyampaikan Paci .

Selengkapnya: Tarian Caci

Tarian dari Kabupaten Flores Timur

Tari Muro Ae’

Asal Larantuka. Dilakukan pada saat penyambutan Tamu agung kerjaan, dalam perkembangananya tari Muro Ae’ masuk dalam rangkaian acara perkawinan (jemput dan antar pengantian) Ditarikan oleh Kaum wanita (Gadis). Peralatan yang digunakan : Bila/Viola, gitar, ukulele/juk, dan gendang yang merupakan peninggalan Portugis, dengan iringan lagu Lu E. Kostum : Sarung Lebao, Lewolere, Waibalun, dengan kebaya atas putihPerllengakapan lain : Saputangan selendang warna putih selendang saraung tenun ikat.

Selengkapnya: Tarian dari Kabupaten Flores Timur